You can call me stupid, but wait..

Hello, on my first post aku lupa memperkenalkan diri.

My Name is Regina. Udah jadi Sarjana Hukum mulai Agustus 2015 lalu tapi sampai sekarang belum dapat pekerjaan aka Pengangguran (tapi udah usaha ngelamar kok T.T). Honestly udah mau 3x nolak pekerjaan. Kenapa dgn “udah mau 3x” ? Kenapa nolak pekerjaan?

Here’s the story begins…

Pertama, kenapa dgn “udah mau 3x” ?

Karena saat aku ngetik tulisan ini, masih dalam keadaan bimbang, ragu, penuh pertimbangan, stress sampai depresi mungkin mengenai pekerjaan ketiga yang udah ga lama lagi mau tanda tangan kontrak tapi aku merasa tidak cocok di situ dan mungkin aku tidak akan tanda tangan kontrak di situ.

Trus bagaimana dengan pertama dgn kedua?

Pertama, waktu aku memasukkan lamaran ke salah satu perusahaan di bidang distribusi sepeda motor. Ketika tahap wawancara aku tidak hadir karena aku berpikir tentang ingin mencari kerja ke perusahaan lain yang lebih menjanjikan ya entah kenapa belum cocok di situ.

Kedua, hampir mirip dengan yang pertama. Tapi aku tidak hadir karena lagi sakit. padahal itu salah satu pekerjaan yang aku suka. Walaupun gajinya sesuai dengan UMP.

Tiba pada yang ketiga, bisa dibilang tawaran kerja yang sangat menggiurkan dan banyak orang yang berusaha keras untuk bisa lolos dan bekerja di situ. Salah satu perusahaan besar negara Indonesia dengan gaji yang wow.

Awalnya aku semangat melamar di situ, walaupun bisa dibilang ikut-ikutan teman dan lagi butuh uang. Aku ikut berbagai tes dan dari tiap-tiap tes itu teman-teman saya banyak yang berguguran. Dari 1000an orang yang melamar, yang lulus sampai pada tahap akhir adalah 81 orang. Daannn, aku salah satu dari 81 org yang lolos. Sepanjang tahap rekrutmen di situ, aku selalu mengabarkan perkembangannya kpd kedua orang tua dan oma. Ternyata semakin tinggi tahap rekrutmen yang aku ikut, semakin besar harapan mereka ketika dinyatakan lolos di situ. Aku ingin menolak tawaran kerja tersebut tapi resikonya sangat besar. Yang pasti keluarga akan bertanya-tanya mengapa saya tidak mengambil kesempatan ini, gaji besar, ada tunjangan, terjamin, apalagi yang harus diragukan? Orang tua saya bisa dibilang sampai menuntut saya untuk menerima pekerjaan di situ dengan alasan kapan lagi bisa dapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi? Banyak banget orang yang berusaha sekuat tenaga supaya bisa lolos rekrutmen dan bisa bekerja di situ dan aku yang sudah bisa melewati itu semua malah menolaknya? Satu lagi pertimbangan yang benar-benar membuat aku sedih, yaitu ketika Ayahku yang sudah sakit-sakitan ingin agar saya cepat bekerja agar dirinya tidak lagi mengambil kerja tambahan (proyek lapangan) supaya bisa mencukupi kehidupan keluargaku yang tidak cukup hanya dengan gaji saja. Banyak juga teman-teman saya yang bilang how lucky I am, bisa lolos di situ dan tidak banyak orang bisa seperti saya.

Pertimbangan mengapa aku menolak, aku tidak berniat kerja disitu. Ikatan Dinas Kerja di situ 5 tahun dan kalau aku tidak lulus Diklat dan OJTnya, aku akan mengulang lagi tahun berikutnya. 5 tahun itu waktu yang sangat lama, bisa saja saya bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok dan aku suka selama 5 tahun itu. Selain itu, aku masih memiliki mimpi, mimpi ingin bekerja di dunia hukum sesuai jurusan waktu aku kuliah, jurusan hukum. Daan, saya ingin menjadi jaksa. Ya, Jaksa adalah Mimpi kedua setelah mimpi pertama menjadi Dokter kandas karena keuangan orang tua. Ketika pernah menyerah dengan mimpi pertama, haruskah aku menyerah dengan mimpi aku sekarang? Walaupun sejujurnya, aku masih ragu apakah aku bisa jadi jaksa, karena belum ada penerimaan jaksa sekarang.

Aku seperti menjalani hidup tanpa arah dan tujuan, dgn kata lain masih abu-abu. Karena aku termasuk orang yang ikuti arus saja tanpa pernah mencoba keluar dari zona nyaman.

Selain mimpi yang bisa dibilang abu-abu itu, saya juga mempunyai pacar yang tidak bisa saya tinggalkan hehe. Mengapa tidak bisa ditinggalkan? Emang mau ke mana? Selama diklat dan OJT di perusahaan itu, aku akan keluar dari kotaku. Belum lagi penempatannya di seluruh Indonesia. Memang, banyak orang yang bilang kalo mau sukses harus bisa belajar merantau. Aku mau merantau, tapi aku terlalu sayang dengan keluarga dan pacar yang ada di kota aku sekarang. Apalagi pacar aku sekarang tinggal sendirian. Soal pacar aku, sama saja dengan aku yang lagi jadi job seeker. Dia juga pernah menolak tawaran pekerjaan di salah satu kantor kementerian karena merasa tidak cocok dan (ehem.. hehe) jauh dari aku. Tapi aku sendiri tidak pernah melarang dia untuk bekerja di luar, tapi dia sendiri yang mau berkorban pekerjaannya demi bisa bekerja di kota yang sama denganku. Besar banget pengorbanannya sehingga aku jadi merasa berhutang sama dia. Sehingga aku pun berpikir, mungkin dengan cara nolak pekerjaan ini, hutang saya bisa lunas. Walaupun resikonya sangat besar, orang tua akan marah besar sama aku.Sama seperti kejadian pacarku yang orangtuanya marah besar padanya sehingga sampai putus kontak.

Lepas dari itu semua,bukankah aku yang nantinya akan menjalani pekerjaan itu? Mengapa orang tua selalu berpikir tentang gengsi mereka ketika anak mereka bisa bekerja di perusahaan besar yang gajinya tinggi? Aku bisa mengerti perasaan orang tuaku. Suatu saat juga, saya akan menjadi seperti mereka.

Tapi sederhana saja, aku mau bekerja bukan hanya untuk uang tapi yang sangat utama adalah kebahagiaan. Orang yang bekerja dengan gaji yang banyak belum tentu bahagia. Aku juga ingin bertahan di wilayah ketidakpastian hidup yang aku jalani sekarang dibandingkan aku mengambil langkah dengan menerima pekerjaan yang saya sendiri ragu dan merasa tidak cocok.

Aku jadi ingat kutipan blog yang ketemu random di google :

Saya menolak tawaran tersebut bukan karena saya menolak rejeki, atau memasang standar yang tinggi, atau idealis, atau apapun itu. Saya menolak tawaran tersebut karena saya tidak ingin bangun di usia saya yang menginjak kepala 3 suatu saat nanti, lalu mulai menyesali diri karena saya tidak pernah benar-benar berusaha mengejar apa yang saya inginkan. Saya tidak mau menjadi bagian dari golongan mereka yang mapan finansial karena pekerjaannya tapi tidak pernah bahagia akan itu. Saya tidak mau membangun sebuah jembatan dengan tembok yang tinggi sebagai pemisah antara realita tempat saya hidup dengan keinginan yang hanya sebatas mimpi saja.”

Berdasarkan kutipan itu aku terinspirasi. Aku juga punya pemikiran yang sama dengan pemilik blog itu. Aku memutuskan untuk menolak pekerjaan tersebut dan ingin mengembangkan diri saya dengan ikut beberapa kursus dan mencari pekerjaan yang aku suka. Karena hidup hanya sekali dan penyesalan memang selalu datang belakangan. Tapi bukankah pilihan hidup seperti itu? Setiap pilihan yang kita ambil punya resiko dan penyesalannya masing-masing 🙂

Last, I want to make my parents happy and proud of me especially for my dad. But, I promise to make it in my own way 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s